Jumat, 22 September 2017

Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Suwardjono.2014 BAB 2 PENALARAN (REASONING)




MAKALAH
TEORI AKUNTANSI
TENTANG
PENALARAN (REASONING)




UNRAMWARNA.jpg
 












                                                                                                                  

DISUSUN OLEH

1.                        Ahyan Zohroyani      (A1C114004)
2.                        Baiq Ayu Purniati     (A1C114015)
3.                        Eko Wibowo               (A1C114019)
4.                        Eva Wiwin Andriani (A1C114022)



FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MATARAM
TAHUN AJARAN 2017/2018


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tentang Penalaran (Reasoning). Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai penalaran (Reasoning). Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.















DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar isi
BAB I Pendahuluan...................................................................................................        1
·         Latar Belakang.................................................................................................        1
·         Rumusan Masalah.............................................................................................        1
·         Tujuan...............................................................................................................        1
BAB II Pembahasan...................................................................................................        2
A.    Definisi Penalaran (Reasoning)........................................................................        2
§  Definisi Penalaran Menurut Para Ahli.....................................................        2
B.     Unsur dan Struktur Penalaran..........................................................................        3
1.   Asersi.......................................................................................................        5
2.   Keyakinan...............................................................................................        8
3.   Argumen..................................................................................................        11
C.     Kecohan (Fallacy)............................................................................................        12
D.    Salah Nalar (Reasoning Fallacy)......................................................................        14
E.     Aspek Manusia Dalam Penalaran.....................................................................        15
BAB III Penutup........................................................................................................        17
·         Kesimpulan.......................................................................................................        17
Daftar Pustaka............................................................................................................        18




BAB I
PENDAHULUAN
·      Latar Belakang
Praktik yang sehat harus dilandasi oleh teori yang sehat pula. Teori yang sehat harus dilandasi oleh penalaran yang sehat karena teori akuntansi menuntut kemampuan penalaran yang memadai. Penalaran merupakan proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan akan asersi. Unsur-unsur penalaran adalah asersi, keyakinan, dan argumen. Interaksi antara ketiganya merupakan bukti rasional untuk mengevaluasi kebenaran suatu pernyataan teori. Asersi merupakan pernyataan bahwa sesuatu adalah benar atau penegasan tentang suatu realitas. Keyakinan merupakan kebersediaan untuk menerima kebenaran suatu pernyataan. Argumen adalah proses penurunan sim-pulan atau konklusi atas dasar beberapa asersi yang berkaitan secara logis. Asersi dapat dinyatakan secara verbal atau struktural. Asumsi, hipotesis, dan pernyataan fakta merupakan jenis tingkatan asersi. Jenis tingkatan konklusi tidak dapat melebihi jenis tingkatan asersi yang terendah. Keyakinan merupakan hal yang dituju oleh penalaran. Keyakinan mengan-dung beberapa sifat penting yaitu: keadabenaran, bukan pendapat, bertingkat, mengandung bias, memuat nilai, berkekuatan, veridikal, dan tertempa.

·      Rumusan Masalah
1.      Menjelaskan definisi dari penalaran (Reasoning)
2.      Menjelaskan unsur dan struktur penalaran
3.      Menjelaskan asersi (assertion), keyakinan (belief), dan argumen (argument)
4.      Menjelaskan tentang kecohan (Fallacy)
5.      Menjelaskan tentang salah nalar (Reasoning Fallacy)
6.      Menjelaskan aspek manusia dalam penalaran

·      Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini untuk mengetahui dan menambah wawasan pembaca dalam memahami penalaran didalam teori akuntansi berdasarkan pengertian, Penalaran (Reasoning), unsur dan struktur penalaran, asersi, keyakinan, argumen, kecohan,salah nalar serta aspek manusia dalam penalaran.

BAB II
PEMBAHASAN
A.  Definisi Penalaran (Reasoning)
Penalaran merupakan pengetahuan tentang prinsip-prinsip berpikir logis yang menjadi basis dalam diskusi ilmiah. Penalaran juga merupakan suatu ciri sikap (attitude) ilmiah yang sangat menuntun kesungguhan (kommitment) dalam menemukan kebenaran ilmiah.
Dapat dikatakan bahwa penalaran adalah proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan terhadap suatu pernyataan atau asersi. Pernyataan dapat berupa teori tentang suatu fenomena atau realitas alam, ekonomik, politik, atau sosial. Pena-laran perlu diajukan dan dijabarkan untuk membentuk, mempertahankan, atau mengubah keyakinan bahwa sesuatu (misalnya teori, pernyataan, atau penjelasan) adalah benar. Penalaran melibatkan inferensi yaitu proses penurunan konsekuensi logis dan melibatkan pula proses penarikan simpulan/konklusi dari serangkaian pernyataan atau asersi. Proses penurunan simpulan sebagai suatu konsekuensi logis dapat bersifat deduktif maupun induktif. Penalar-an mempunyai peran penting dalam pengembangan, penciptaan, pengevaluasian, dan pengujian suatu teori atau hipotesis.
Teori merupakan sarana untuk menyatakan suatu keyakinan sedangkan penalaran merupakan proses untuk mendukung keyakinan tersebut. Oleh karena itu, keyakinan (terhadap suatu teori atau pernyataan) berkisar antara lemah sampai kuat sekali atau memaksa bergantung pada kualitas atau keefektifan penalaran dalam menimbulkan daya bujuk atau dukung yang dihasilkan.
Definisi penalaran (Reasoning) menurut para ahli
1.      Bakry (1986) menyatakan bahwa penalaran atau Reasoning merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui.
2.      Suriasumantri (2001) mengemukakan secara singkat bahwa penalaran adalah suatu aktifitas berpikir dalam pengambilan suatu simpulan yang berupa pegetahuan.
3.      Keraf (1985) berpendapat bahwa penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden ,menuju kepada suatu kesimpulan.
          Jadi secara umum Penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menggabungkan fakta-fakta atau data-data yang sistematik menuju suatu kesimpulan berupa pengetahuan. Dengan kata lain, Penalaran merupakan sebuah proses berpikir untuk mencapai kesimpulan yang logis
B.  Unsur dan Struktur Penalaran
       Struktur dan proses penalaran dibangun atas dasar tiga konsep penting yaitu asersi, keyakinan, dan argumen . Struktur penalaran menggambarkan hubungan ketiga konsep diatas dalam menghasilkan daya dukung atau bukti rasional terhadap keyakinan tentang suatu pernyataan.
1.      Asersi adalah suatu pernyataan (biasanya positif ) yang menegaskan bahwa sesuatu adalah benar. Asersi memiliki fungsi ganda dalam penalaran yaitu sebagai elemen pembentuk (ingredient) argumen dan sebagai keyakinan yang dihasilkan oleh penalaran (berupa kesimpulan).

2.      Keyakinan adalah tingkat kebersediaan (willingness) untuk menerima bahwa suatu pernyataan atau teori (penjelasan) mengenai suatu fenomena atau gejala (alam atau sosial) adalah benar. Keyakinan merupakan unsur penting dalam penalaran karena keyakinan menjadi obyek atau sasaran penalaran dan karena keyakinan menentukan posisi (paham) dan sikap seseorang terhadap suatu masalah yang menjadi topik bahasan.

3.      Argumen adalah serangkaian asersi beserta keyakinan (artikulasi) dan inferensi atau penyimpulan yang digunakan untuk mendukung suatu keyakinan. Argumen digunakan untuk membentuk, memelihara, atau mengubah suatu keyakinan.








Proses atau Struktur Penalaran

 






                                     



         
          Gambar di atas menunjukkan bahwa argumen dalam proses penalaran meru-pakan salah satu bentuk bukti yang oleh Mautz dan Sharaf (1964) disebut sebagai argumentasi rasional (rational argumentation). Dua jenis bukti yang lain adalah bukti natural dan bukti ciptaan. Bukti dalam bentuk argumen rasional akan banyak diperlukan dalam teori akuntansi yang membahas masalah konseptual khususnya bila akuntansi dipandang sebagai teknologi dan teori akuntansi diartikan sebagai penalaran logis.
          sesuatu yang memberi dasar rasional dalam pertimbangan untuk menetapkan kebenaran suatu pernyataan. Dalam hal teori akuntansi, pertimbangan diperlukan untuk menetapkan relevansi atau keefektifan suatu perlakuan akuntansi untuk mencapai tujuan akuntansi. Gambar di bawah ini menunjukkan peran argumen sebagai bukti.




Arti Penting Argumen Sebagai Bukti
 






Perlu dicatat bahwa keyakinan yang diperoleh seseorang karena kekuatan atau kelemahan argumentasi adalah terpisah dengan masalah apakah pernyataan yang diyakini itu sendiri benar atau takbenar. Dapat saja seseorang memegang keyakinan yang kuat terhadap sesuatu yang salah atau sebaliknya menolak suatu pernyataan yang benar (valid). Berikut ini dibahas lebih lanjut konsep atau komponen penalaran.
1.    Asersi
          Asersi (pernyataan) memuat penegasan tentang sesuatu atau realitas. Pada umumnya asersi dinyatakan dalam bentuk kalimat. Berikut ini adalah contoh beberapa asersi (beberapa adalah asersi dalam akuntansi):
   Manusia adalah makhluk sosial.
   Semua binatang menyusui mempunyai paru-paru.
   Beberapa obat batuk menyebabkan kantuk.
   Tidak ada ikan hias yang melahirkan.
   Partisipasi mempengaruhi kinerja.
   Statemen aliran kas bermanfaat bagi investor dan kreditor.
   Perusahaan besar akan memilih metoda MPKP.
   Informasi sumber daya manusia harus dicantumkan di neraca.
   Dalam sektor publik, anggaran merupakan alat pengendalian dan pengawasan yang paling andal.


Beberapa asersi mengandung pengkuantifikasi yaitu semua, tidak ada, dan beberapa. Asersi yang memuat pengkuantifikasi semua dan tidak ada merupakan asersi universal sedangkan yang memuat penguantifikasi beberapa merupakan asersi spesifik. Asersi spesifik dapat disusun dengan pengkuanti fikasi sedikit, banyak, sebagian besar, atau bilangan tertentu. Pengkuantifikasi diperlukan untuk menentukan ketermasukan (inclusiveness) atau keuniversalan asersi. “Burung dapat terbang” tidak dapat diinterpretasi sebagai asersi universal karena kita tahu kecualian terhadap asersi tersebut yaitu misalnya burung unta (yang tidak dapat terbang). Tanpa pengkuantifikasi ketermasukan akan sangat sulit ditentukan. Misalnya seseorang mengajukan asersi “Pria lebih berat badannya daripada wanita.” Asersi tersebut meragukan (ambigus) karena sulit untuk diinterpretasi apa maksud sesungguhnya asersi tersebut.
·      Asersi untuk Evaluasi Istilah
          Representasi asersi dalam bentuk diagram dapat digunakan untuk mengevaluasi ketepatan makna suatu istilah. Sebagai contoh, manakah istilah yang tepat antara bersertifikat akuntan publik (BAP) dan akuntan publik bersertifikat (APB) sebagai padan kata certified public accountant (CPA).
Bersertifikat akuntan publik bermakna himpunan orang-orang yang bersertifikat dan salah satu subhimpunannya adalah akuntan publik. Sesuai dengan makna aslinya, akuntan publik bersertifikat bermakna sebagai subhimpunan akuntan publik dan akuntan publik merupakan subhimpunan akuntan. Diagram berikut menjelaskan perbedaan makna kedua istilah tersebut.
·      Jenis Asersi (Pernyataan)
          Untuk menimbulkan keyakinan terhadap kebenaran suatu asersi, asersi harus didukung oleh bukti atau fakta. Untuk keperluan argumen, suatu asersi sering dianggap benar atau diterima tanpa harus diuji dahulu kebenarannya. Bila dikaitkan dengan fakta pendukung, asersi dapat diklasifikasi menjadi asumsi, hipotesis, dan pernyataan fakta.
Asumsi adalah asersi yang diyakini benar meskipun orang tidak dapat menga-jukan atau menunjukkan bukti tentang kebenarannya secara meyakinkan atau asersi yang orang bersedia untuk menerima sebagai benar untuk keperluan diskusi atau debat.

Hipotesis adalah asersi yang kebenarannya belum atau tidak diketahui tetapi diyakini bahwa asersi tersebut dapat diuji kebenarannya. Untuk disebut sebagai hipotesis, suatu asersi juga harus mengandung kemungkinan salah. Bila tidak ada kemungkinan salah, suatu asersi akan menjadi pernyataan fakta. Hipotesis biasanya diajukan dalam rangka pengujian teori. Dalam pengujian ilmiah suatu teori (hipotesis), terdapat prinsip yang disebut prinsip keterbuktisalahan yang berbunyi bahwa untuk diperlakukan sebagai teori yang serius dan ilmiah, tia harus dapat dibuktikan salah kalau memang kenyataannya tia salah. Teori yang kuat atau yang meyakinkan adalah teori yang tidak hanya dapat dibuktikan salah tetapi juga yang tegar atau bertahan terhadap segala upaya untuk membuktikan salah. Prinsip ini didasari oleh pemikiran bahwa teori itu tidak dapat dibuktikan benar tetapi yang dapat dibuktikan adalah bahwa ia salah. Oleh karena itu, pengujian suatu teori baru (hipotesis) biasanya diarahkan untuk menyanggah teori lawan. Pendekatan atau strategi semacam ini dikenal sebagai pendekatan penyanggahan ilmiah (scientific refutation).
Pernyataan fakta adalah asersi yang bukti tentang kebenarannya diyakini sangat kuat atau bahkan tidak dapat dibantah. Contoh asersi sebagai pernyataan fakta adalah: semua orang akan meninggal, satu hari sama dengan 24 jam, matahari merupakan pusat orbit tata surya, dan penduduk kota Jakarta lebih padat daripada penduduk kota Solo.
·      Fungsi Asersi
          Asersi merupakan bahan olah dalam argumen. Dalam argumen, asersi dapat berfungsi sebagai premis dan konklusi . Premis adalah asersi yang digunakan untuk mendukung suatu konklusi. Konklusi adalah asersi yang diturunkan dari serangkaian asersi. Suatu argumen paling tidak berisi satu premis dan satu konklusi. Karena premis dan konklusi keduanya merupakan asersi, konklusi (berbentuk asersi) dalam suatu argumen dapat menjadi premis dalam argumen yang lain.
Ketiga jenis asersi yang dibahas sebelum ini asumsi, hipotesis, pernyataan fakta dapat berfungsi sebagai premis dalam suatu argumen. Dalam hal ini, prinsip yang harus dipegang adalah bahwa kredibilitas konklusi tidak dapat melebihi kredibilitas terendah premis-premis yang digunakan untuk menurunkan konklusi. Artinya, kalau konklusi diturunkan dari serangkaian premis yang salah satu merupakan pernyataan fakta dan yang lain asumsi, konklusi tidak dapat dipandang sebagai pernyataan fakta. Dengan kata lain, keyakinan terhadap konklusi dibatasi oleh keyakinan terhadap premis.

2.    Keyakinan
Keyakinan terhadap asersi adalah tingkat kebersediaan untuk menerima bahwa asersi tersebut benar. Keyakinan diperoleh karena kepercayaan tentang kebenaran yang dilekatkan pada suatu asersi. Suatu asersi dapat dipercaya karena adanya bukti yang kuat untuk menerimanya sebagai hal yang benar. Orang dikatakan yakin terhadap suatu asersi bila dia menunjukkan perbuatan, sikap, dan pandangan seolah-olah asersi tersebut benar karena dia percaya bahwa asersi tersebut benar. Kepercayaan diberikan kepada suatu asersi biasanya setelah dilakukan evaluasi terhadap asersi atas dasar argumen yang digunakan untuk menurunkan asersi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa keyakinan merupa-kan produk, hasil, atau tujuan suatu penalaran. Berbagai faktor mempengaruhi tingkat keyakinan seseorang atas suatu asersi. Karakteristik (sifat) asersi menen-tukan mudah-tidaknya keyakinan seseorang dapat diubah melalui penalaran.
·      Properitas Keyakinan
Semua penalaran bertujuan untuk menghasilkan keyakinan terhadap asersi yang menjadi konklusi penalaran. Pemahaman terhadap beberapa properitas (sifat) keyakinan sangat penting dalam mencapai keberhasilan berargumen. Argumen dianggap berhasil kalau argumen tersebut dapat mengubah keyakinan.
·      Keadabenaran
Sebagai produk penalaran, untuk dapat menimbulkan keyakinan, suatu asersi harus ada benarnya . Keadabenaran atau plausibilitas suatu asersi bergantung pada apa yang diketahui tentang isi asersi atau penge-tahuan yang mendasari dan pada sumber asersi. Pengetahuan yang mendasari (termasuk pengalaman) biasanya menjamin kebenaran asersi. Oleh karena itu, konsistensi suatu asersi dengan pengetahuan yang mendasari akan menentukan plausibilitas asersi. Dalam hal sumber, autori-tas sumber menentukan plausibilitas asersi. Artinya, kalau sumber asersi diyakini dapat dipercaya dan ahli di bidangnya tentang topik asersi, orang akan lebih bersedia meyakini asersi daripada kalau sumbernya tidak dapat diper-caya dan tidak ahli. Oleh karena itu, kadang-kadang orang menyerahkan penilaian plausibilitas asersi kepada ahli dengan pemeo “serahkan saja pada ahlinya.” Dengan pikiran ini, keyakinan diperoleh karena keautoritatifan sumber. Mengacu argumen pada autoritas sumber untuk mendukung kebenaran asersi disebut dengan imbauan autoritas.

·      Bukan pendapat
Keyakinan adalah sesuatu yang harus dapat ditunjukkan atau dibuktikan secara objektif apakah tia salah atau benar dan sesuatu yang diharapkan menghasilkan kesepakatan (agreement) oleh setiap orang yang mengevaluasinya atas dasar fakta objektif. Pendapat atau opini adalah asersi yang tidak dapat ditentukan benar atau salah karena berkaitan dengan kesukaan (preferensi) atau selera. Berbeda dengan keyakinan, plausibilitas pendapat tidak dapat ditentukan. Artinya, apa yang benar bagi seseorang dapat salah bagi yang lain. Walaupun dalam kenyataan-nya kedua konsep tersebut tidak dibedakan secara tegas, penalaran logis yang dibahas di sini lebih ditujukan pada keyakinan daripada pendapat.
·      Bertingkat
Keyakinan yang didapat dari suatu asersi tidak bersifat mutlak tetapi bergradasi mulai dari sangat maragukan sampai sangat meyakinkan (convincing). Tingkat keyakinan ditentukan oleh kuantitas dan kualitas bukti untuk mendukung asersi. Orang yang objektif dan berpikir logis tentunya akan bersedia untuk mengubah tingkat keyakinannya manakala bukti baru mengenai plausibilitas suatu asersi diperoleh.
·      Berbias
Selain kekuatan bukti objektif yang ada, keyakinan dipengaruhi oleh preferensi, keinginan, dan kepentingan pribadi yang karena sesuatu hal perlu dipertahankan. Idealnya, dalam menilai plausibilitas suatu asersi orang harus bersikap objektif dengan pikiran terbuka. Pada umumnya, bila orang mempunyai kepentingan, sangat sulit baginya untuk bersikap objektif. Dengan bukti objektif yang sama, suatu asersi akan dianggap sangat meyakinkan oleh orang yang mem-punyai kepentingan pribadi yang besar dan hanya dianggap agak atau kurang meyakinkan oleh orang yang netral. Demikian pula sebaliknya.
·      Bermuatan nilai
Orang melekatkan nilai (value) terhadap suatu keyakinan. Nilai keyakinan adalah tingkat penting-tidaknya suatu keyakinan perlu dipegang atau dipertahankan seseorang. Nilai keyakinan bagi seseorang akan tinggi apabila perubahan keyakinan mempunyai implikasi serius terhadap filosofi, sistem nilai, martabat, penda-patan potensial, dan perilaku orang tersebut.

·      Berkekuatan
Kekuatan keyakinan adalah tingkat kepercayaan yang dilekatkan seseorang pada kebenaran suatu asersi. Orang yang nyatanya tidak mengerjakan apa yang ter-kandung dalam asersi menandakan bahwa keyakinannya terhadap kebenaran asersi lemah. Dapat dikatakan bahwa semua properitas keyakinan merupakan faktor yang menentukan tingkat kekuatan keyakinan seseorang.
·      Veridikal
Veridikalitas adalah tingkat kesesuaian keyakinan dengan realitas. Realitas yang dimaksud di sini adalah apa yang sungguh-sungguh benar tentang asersi yang diyakini. Dengan kata lain, veridikalitas adalah mudah tidaknya fak-ta ditemukan dan ditunjukkan untuk mendukung keyakinan. Misalnya keyakinan bahwa besi yang dipanasi akan memuai lebih mudah ditunjukkan (lebih veridikal) daripada keyakinan bahwa sistem sosialis dapat mengurangi kemiskinan. Dalam banyak hal, penilaian apakah benar suatu asersi sesuai dengan realitas merupa-kan hal yang sangat pelik dan bersifat subjektif. Oleh karena itu, untuk tujuan ilmiah tingkat veridikalitas keyakinan dievaluasi berdasarkan kaidah pengujian ilmiah (scientific rules of evidence).
·      Berketertempaan
Ketertempaan atau kelentukan keyakinan berkaitan dengan mudah-tidaknya keyakinan tersebut diubah dengan adanya informasi yang rele-van. Berbeda dengan veridikalitas, ketertempaan tidak memasalahkan apakah suatu asersi sesuai atau tidak dengan realitas tetapi lebih memasalahkan apakah keyakinan terhadap suatu asersi dapat diubah oleh bukti. Kelentukan ini biasanya ditentukan oleh kesungguhan pemegang keyakinan, lamanya keyakinan telah dipegang (baik secara pribadi maupun secara sosial/umum), dan konsekuensi perubahan keyakinan bagi diri pemegang. Tujuan suatu argumen adalah untuk mengubah keyakinan kalau memang keyakinan tersebut lentuk untuk berubah.




3.    Argumen
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah argumen sering digunakan secara keliru untuk menunjuk ketidaksepakatan, perselisihan pendapat, atau bahkan pertengkaran mulut (Jawa: padu). Dalam pengertian ini, argumen mempunyai konotasi negatif. Orang yang suka bertengkar dan ingin menangnya sendiri akan menikmati dan memburunya tetapi orang yang ingin mencari solusi atau alternatif pemecahan masalah yang terbaik akan menghindarinya. Dalam arti positif, argumen dapat disamakan dengan penalaran logis untuk menjelaskan atau mengajukan bukti rasional tentang suatu asersi. Bila seseorang mengajukan alasan untuk mendukung suatu gagasan atau pandangan, dia biasanya menawarkan suatu argumen. Argumen dalam arti positif selalu dijumpai dalam bacaan, per-cakapan, dan dalam diskusi ilmiah. Argumen merupakan bagian penting dalam pengembangan pengetahuan. Agar memberi keyakinan, argumen harus dievaluasi kelayakan atau validitasnya.
·      Jenis Argumen
Berbagai karakteristik dapat digunakan sebagai basis untuk mengklasifikasi argu-men. Misalnya argumen dibedakan menjadi argumen langsung dan taklangsung, formal dan informal, serta meragukan dan meyakinkan. Klasifikasi yang ditinjau dari bagaimana penalaran (reasoning) diterapkan untuk menurunkan konklusi merupakan klasifikasi yang sangat penting dalam pembahasan buku ini. Dalam hal ini, argumen dapat diklasifikasi menjadi argumen deduktif dan induktif.
1.      Argumen Deduktif
Argumen atau penalaran deduktif adalah proses penyimpulan yang berawal dari suatu pernyataan umum yang disepakati (premis) ke pernyataan khusus sebagai simpulan (konklusi). Argumen deduktif disebut juga argumen logis sebagai pasangan argumen ada benarnya. Argumen logis adalah argumen yang asersi konklusinya tersirat (implied) atau dapat diturunkan/dideduksi dari  asersi-asersi lain yang diajukan. Disebut argumen logis karena kalau premis-premisnya benar konklusinya harus benar (valid). Kebenaran konklusi tidak selalu berarti bahwa konklusi merefleksi realitas (truth).




2.      Argumen Induktif
Penalaran ini berawal dari suatu pernyataan atau keadaan yang khusus dan bera-khir dengan pernyataan umum yang merupakan generalisasi dari keadaan khusus tersebut. Berbeda dengan argumen deduktif yang merupakan argumen logis (logi-cal argument), argumen induktif lebih bersifat sebagai argumen ada benarnya (plausible argument). Dalam argumen logis, konklusi merupakan implikasi dari premis. Dalam argumen ada benarnya (plausible), konklusi merupakan generalisa-si dari premis sehingga tujuan argumen adalah untuk meyakinkan bahwa proba-bilitas atau kebolehjadian (likelihood) kebenaran konklusi cukup tinggi atau sebaliknya.

C.  Kecohan (Fallacy)
Dalam kehidupan sehari-hari (baik akademik mapun noakademik), acapkali dijumpai bahwa argumen yang jelek, lemah, tidak sehat, atau bahkan tidak masuk akal ternyata mampu meyakinkan banyak orang sehingga mereka terbujuk oleh argumen tersebut padahal seharusnya tidak. Kita harus mengenal berbagai kecohan agar kita waspada bahwa hal semacam itu memang ada sehingga kita tidak terkecoh atau mengecoh orang lain secara tak sengaja.
a.       Stratagem adalah pendekatan atau cara-cara untuk mempengaruhi keyakinan orang dengan cara selain mengajukan argumen yang valid atau masuk akal. Stratagem merupakan salah satu bentuk argumen karena merupakan upaya untuk meyakinkan sesorang agar dia percaya atau bersedia mengerjalan sesuatu.
b.      Persuasi taklangsung merupakan stratagem untuk meyakiknkan seseorang akan kebenaran atau pernyataan bukan langsung melalui argumen atau penalaran meainkan melalui cara-cara yang sama sekali tidak berkaitan dengan validitas argumen.
c.       Membidik orangnya stratagem ini digunakan untuk melemahkan atau menjatuhkan suatu posisi atau pernyataan dengan cara menghubungkan pernyataan atau argumen yang diajukan seseorang dengan pribadi orang tersebut.
d.      Menyampaikan masalah stratagem ini dilakukan dengan cara mengajukan argumen yang tidak bertumpu pada masalah pokok atau dengan cara mengalihkan masalah ke masalah yang lain yang tidak bertautan. Hal ini sering dilakukan orang jika dia tidak bersedia menerima argumen yang dia tau lebih valid dari argumen yang dipegangnya.
e.       Misrepresentasi stratagem ini digunakan biasanya untuk menyanggah atau menjatuhkan posisi lawan dengan cara memutarbalikkan atau menyembunyikan fakta baik secara halus maupun terang-terangan.
f.       Imbauan cacah strategem ini biasanya digunakan untuk mendukung suatu posisi dengan menunjukkan bahwa banyak orang melakukan apa yang dikandung posisi tersebut.
g.      Imbauan autoritas stratagem ini mirip dengan imbauan cacah kecuali bahwa banyaknya orang atau popularitas diganti dengan autoritas. Stratagem ini juga dapat dianggap sebagai salah satu jenis argumen ad hominen (memdidik orangnya).
h.      Imbauan tradisi juga mempunyai justifikasi sehingga tradisi tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Akan tetapi, justifikasi tersebut dapat menjadi kecohan yang membabi buta. Hal yang perlu dicatat  dalam kaitanya dalam argumen ini adalah bahwa maksud baik tradisi tidak merupakan alasan yang kuat untuk mempertahankan atau untuk menolak mempertimbangkan bukti baru kalau memang terdapat bukti kuat baru bahwa maksud tersebut tidak lagi valid.
i.        Dilema semua adalah taktik seseorang untuk mengamburkan argumen dengan cara menyajikan gagasanya dan satu alternatif lain kemudian mekarakterisasi alternatif lain yang sangat jelek, merugikan, atau mengerikan sehingga tidak ada cara lain kecuali menerima apa yang diusulkan.
j.        Imbauan emosi dengan menggugah emosi, pengargumenan sebenarnya berusaha menggeser dukungan nalar validitas argumen dengan motif. Dengan taktik ini, emosi orang yang dituju diagritasi sehingga dia merasa tidak enak untuk tidak menerima alasan yang taklayak. Dua stratagem yang dapat digunakan untuk mencapai hal ini adalah imbauan belas kasih dan imbaukan tekanan/kekuasaan.










D.  Salah Nalar (Reasoning Fallacy)
Terjadi apabila penyimpulan tidak didasarkan pada kaidah-kaidah penalaran yang valid. Jadi salah nalar adalah kesalahan stuktur atau proses formal penalaran dalam menurunkan simpulan sehingga simpulan menjadi salah atau tidak valid.
a.       Menegaskan Konsekuen bila simpulan diambil dengan pola premis yang menegaskan konsekuen, akan terjadi salah nalar.
b.      Menyangkal Anteseden, kebalikan dari salah nalar menegaskan konsekuen adalah menyangkal anteseden. Suatu argumen yang mengandung penyangkalan akan valid apabila konklusi ditarik mengikuti kaidah menyangkal konsekuen. Bila simpulan diambil dengan stuktur premis yang menyangkal anteseden, simpulan akan menjadi tidak valid.
c.       Pentaksaan, salah nalar dapat terjadi apabila ungkapan dalam premis yang satu mempunyai makna yang berbeda dengan makna ungkapan yang sama dalam premis lainnya. Dapat juga, salah nalar terjadi karena konteks premis yang satu berbeda dengan premis lainnya.
d.      Perempatan lebih, perempatan atau generalisasi itu sendiri bukan merupakan salah nalar. Kemapuan merampatkan merupakan suatu kemampuan intelektual yang sangat penting dalam pengembangan ilmu. Masalahnya adalah bila derajat perampatan begitu ekstrem sehingga mengabaikan bahwa apa yang diamati merupaka peluar atau pengecualian.
e.       Parsialitas, penalar kadang-kadang terkecoh karena dia menarik konklusi hanya atas dasar sebagian dari bukti yang tersedia yang kebetulan mendukung konklusi.
f.       Pembuktian Dengan Analogi, dalam pengembangan istilah, analogi sering diartikan sebagai mengikuti kaidah atau stuktur ungkapan yang sama. Dengan makna ini, menggunakan analogi untuk menurunkan istilah bukan merupakan salah nalar tetapi merupaka sarana untuk mengimplikasi kaidah secara taat asas.
g.      Menyusun Urutan Kejadian dengan Penyebabnya, dalam percakapan sehari-hari atau diskusi, kesalahan yang sering dilakukan orang adalah menacukan urutan kejadian dengan penyebaban. Dalam penelitian ekperimental yang bertujuan untuk menguji hubungan penyebaban, konklusi dapat salah satu atau meragukan karena terdapat faktor penyebab selain yang diteliti yang ternyata juga mempengaruhi faktor akibat.
h.      Menarik Simpulan Pasangan, mengambil konklusi pasangan lantaran konklusi yang diajukan tidak disajikan secara meyakinkan merupakan suatu salah nalar. Kalau suatu pernyataan yang memang valid disajikan dengan argumen yang kurang efektif, maka hal terbaik yang dapat disimpulkan adalah bahwa validitas atau kebenaran pernyataan tersebut belum terungkap atau ditunjukkan tetapi tidak berarti bahwa pernyataan tersebut tak benar. Dengan demikian kurang meyakinkan suatu konklusi tidak dengan sendirinya membenarkan konklusi yang ain (pasangan).

E.  Aspek Manusia Dalam Penalaran
Manusia tidak selalu rasional dan bersedia berargumen sementara itu tidak semua asersi dapat ditentukan kebenaranya secara objektif dan tuntas. Yang memprihatinkan dunia akademik adalah kalau para pakar pun lebih suka berstrategem daripada berargumen secara ilmiah. Berikut ini akan dibahas beberapa aspek manusia yang dapat menjadi penghalang penalaran dan pengebangan ilmu, khususnya dalam akademik maupun ilmiah.
a.       Penjelasan Sederhana. Rasionalitas menuntut penjelasan yang sesuai dengan fakta. Keinginana kuat orang untuk memperoleh penjelasan sering menjadikan orang puas dengan penjelasan sederhana yang pertama dan menyebabkan orang menjadi tidak kritis dalam menerima penjelasan. Akibatnya argumen dan pencarian kebenaran akan terhenti sehingga pengebangan ilmu pengetahuan akan terhambat.
b.      Kepentingan Mengalahkan Nalar. Hambatan untuk bernalar sering muncul akibat orag mempunyai kepentingan tertentu yang harus dipertahankan.Budaya akademik yang dapat menghambat kemajuan pengetahuan :
1.        Sindroma Tes Klinis : mengambarkan seseorang yang merasa (bahkan yakin) bahwa terdapat ketidakberesan dalam tubuhknya dan dia juga tahu benar apa yang terjadi karena pengetahuannya tentang suatu penyakit.
2.        Mentalitas Djoko Tingkir : menggambarkan lingkungan akademik atau profesi seperti ini karena konon perbuatan Djoko Tingkir yang tidak terpuji harus dibuat menjadi terpuji engan cara mengubah skenario yang sebenarnya terjadi semata-mata untuk menghormatinya karena dia bakal menjadi raja(kekuasaan).

c.       Merasionalkan Daripada Menalar. Sikap merasionalkan posisi dapat terjadi karena keterbatasan pengetahuan orang bersangkutan dalam topik yang dibahas tetapi orang tersebut tidak mau mengakuinya.
d.      Persistensi. Karena kepentingan tertentu harus dipertahankan atau karena telah lama melekat dalam rerangka pikir, seseorang kadang-kadang sulit melepaskan suatu keyakinan dan mengantinya dengan yang baru. Sampai tingkat tertentu persistensi merupakan sikap yang penting agar orang tidak dengan mudahnya pindah dari keyakinan atau paradigma yang satu ke yang lain

























BAB III
PENUTUP
·      Kesimpulan
Dapat dikatakan bahwa penalaran adalah proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan terhadap suatu pernyataan atau asersi. Pernyataan dapat berupa teori (penjelasan) tentang suatu fenomena atau realitas alam, ekonomik, politik, atau sosial. Pena-laran perlu diajukan dan dijabarkan untuk membentuk, mempertahankan, atau mengubah keyakinan bahwa sesuatu (misalnya teori, pernyataan, atau penjelasan) adalah benar. Penalaran melibatkan inferensi (inference) yaitu proses penurunan konsekuensi logis dan melibatkan pula proses penarikan simpulan/konklusi (conclusion) dari serangkaian pernyataan atau asersi. Proses penurunan simpulan sebagai suatu konsekuensi logis dapat bersifat deduktif maupun induktif. Penalar-an mempunyai peran penting dalam pengembangan, penciptaan, pengevaluasian, dan pengujian suatu teori atau hipotesis.













DAFTAR PUSTAKA
Suwardjono.2014. Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Edisi  Ketiga. Yogyakarta: BPFE
http://monnygrab.blogspot.co.id/2016/01/penalaran-reasoning.html





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gambar