MAKALAH
TEORI
AKUNTANSI
TENTANG
PENALARAN
(REASONING)
![]() |
DISUSUN
OLEH
1.
Ahyan
Zohroyani (A1C114004)
2.
Baiq
Ayu Purniati (A1C114015)
3.
Eko
Wibowo (A1C114019)
4.
Eva
Wiwin Andriani (A1C114022)
FAKULTAS
EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS
MATARAM
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta
taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tentang Penalaran
(Reasoning). Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka
menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai penalaran (Reasoning). Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah
sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah
yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari anda
demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar
Daftar
isi
BAB
I Pendahuluan................................................................................................... 1
·
Latar
Belakang................................................................................................. 1
·
Rumusan
Masalah............................................................................................. 1
·
Tujuan............................................................................................................... 1
BAB
II Pembahasan................................................................................................... 2
A.
Definisi
Penalaran (Reasoning)........................................................................ 2
§ Definisi Penalaran Menurut Para Ahli..................................................... 2
B.
Unsur
dan Struktur Penalaran.......................................................................... 3
1.
Asersi....................................................................................................... 5
2.
Keyakinan............................................................................................... 8
3.
Argumen.................................................................................................. 11
C.
Kecohan
(Fallacy)............................................................................................ 12
D.
Salah
Nalar (Reasoning Fallacy)...................................................................... 14
E.
Aspek
Manusia Dalam Penalaran..................................................................... 15
BAB
III Penutup........................................................................................................ 17
·
Kesimpulan....................................................................................................... 17
Daftar
Pustaka............................................................................................................ 18
BAB
I
PENDAHULUAN
·
Latar Belakang
Praktik
yang sehat harus dilandasi oleh teori yang sehat pula. Teori yang sehat harus
dilandasi oleh penalaran yang sehat karena teori akuntansi menuntut kemampuan
penalaran yang memadai. Penalaran merupakan proses berpikir logis dan
sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan akan asersi. Unsur-unsur
penalaran adalah asersi, keyakinan, dan argumen. Interaksi antara ketiganya
merupakan bukti rasional untuk mengevaluasi kebenaran suatu pernyataan teori.
Asersi merupakan pernyataan bahwa sesuatu adalah benar atau penegasan tentang
suatu realitas. Keyakinan merupakan kebersediaan untuk menerima kebenaran suatu
pernyataan. Argumen adalah proses penurunan sim-pulan atau konklusi atas dasar
beberapa asersi yang berkaitan secara logis. Asersi dapat dinyatakan secara
verbal atau struktural. Asumsi, hipotesis, dan pernyataan fakta merupakan jenis
tingkatan asersi. Jenis tingkatan konklusi tidak dapat melebihi jenis tingkatan
asersi yang terendah. Keyakinan merupakan hal yang dituju oleh penalaran.
Keyakinan mengan-dung beberapa sifat penting yaitu: keadabenaran, bukan
pendapat, bertingkat, mengandung bias, memuat nilai, berkekuatan, veridikal,
dan tertempa.
·
Rumusan Masalah
1.
Menjelaskan
definisi dari penalaran (Reasoning)
2.
Menjelaskan
unsur dan struktur penalaran
3.
Menjelaskan
asersi (assertion), keyakinan (belief), dan argumen (argument)
4.
Menjelaskan
tentang kecohan (Fallacy)
5.
Menjelaskan
tentang salah nalar (Reasoning Fallacy)
6.
Menjelaskan
aspek manusia dalam penalaran
·
Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini
untuk mengetahui dan menambah wawasan pembaca dalam memahami penalaran didalam
teori akuntansi berdasarkan pengertian, Penalaran (Reasoning), unsur dan
struktur penalaran, asersi, keyakinan, argumen, kecohan,salah nalar serta aspek
manusia dalam penalaran.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Penalaran (Reasoning)
Penalaran
merupakan pengetahuan tentang prinsip-prinsip berpikir logis yang menjadi basis
dalam diskusi ilmiah. Penalaran juga merupakan suatu ciri sikap (attitude)
ilmiah yang sangat menuntun kesungguhan (kommitment) dalam menemukan kebenaran
ilmiah.
Dapat dikatakan bahwa penalaran
adalah proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi
suatu keyakinan terhadap suatu pernyataan atau asersi. Pernyataan dapat berupa
teori tentang suatu fenomena atau realitas alam, ekonomik, politik, atau
sosial. Pena-laran perlu diajukan dan dijabarkan untuk membentuk,
mempertahankan, atau mengubah keyakinan bahwa sesuatu (misalnya teori,
pernyataan, atau penjelasan) adalah benar. Penalaran melibatkan inferensi yaitu
proses penurunan konsekuensi logis dan melibatkan pula proses penarikan
simpulan/konklusi dari serangkaian pernyataan atau asersi. Proses penurunan
simpulan sebagai suatu konsekuensi logis dapat bersifat deduktif maupun
induktif. Penalar-an mempunyai peran penting dalam pengembangan, penciptaan,
pengevaluasian, dan pengujian suatu teori atau hipotesis.
Teori merupakan sarana untuk menyatakan
suatu keyakinan sedangkan penalaran merupakan proses untuk mendukung keyakinan
tersebut. Oleh karena itu, keyakinan (terhadap suatu teori atau pernyataan)
berkisar antara lemah sampai kuat sekali atau memaksa bergantung pada kualitas
atau keefektifan penalaran dalam menimbulkan daya bujuk atau dukung yang
dihasilkan.
Definisi
penalaran (Reasoning) menurut para ahli
1.
Bakry (1986) menyatakan bahwa
penalaran atau Reasoning merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk pada
salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai
pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui.
2.
Suriasumantri (2001)
mengemukakan secara singkat bahwa penalaran adalah suatu aktifitas berpikir
dalam pengambilan suatu simpulan yang berupa pegetahuan.
3.
Keraf (1985) berpendapat bahwa
penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti,
fakta, petunjuk atau eviden ,menuju kepada suatu kesimpulan.
Jadi secara umum Penalaran adalah
suatu proses berpikir manusia untuk menggabungkan fakta-fakta atau data-data
yang sistematik menuju suatu kesimpulan berupa pengetahuan. Dengan kata lain,
Penalaran merupakan sebuah proses berpikir untuk mencapai kesimpulan yang logis
B. Unsur
dan Struktur Penalaran
Struktur
dan proses penalaran dibangun atas dasar tiga konsep penting yaitu asersi,
keyakinan, dan argumen . Struktur penalaran menggambarkan hubungan ketiga
konsep diatas dalam menghasilkan daya dukung atau bukti rasional terhadap
keyakinan tentang suatu pernyataan.
1.
Asersi adalah suatu pernyataan (biasanya
positif ) yang menegaskan bahwa sesuatu adalah benar. Asersi memiliki fungsi
ganda dalam penalaran yaitu sebagai elemen pembentuk (ingredient) argumen dan
sebagai keyakinan yang dihasilkan oleh penalaran (berupa kesimpulan).
2.
Keyakinan adalah tingkat kebersediaan
(willingness) untuk menerima bahwa suatu pernyataan atau teori (penjelasan)
mengenai suatu fenomena atau gejala (alam atau sosial) adalah benar. Keyakinan
merupakan unsur penting dalam penalaran karena keyakinan menjadi obyek atau
sasaran penalaran dan karena keyakinan menentukan posisi (paham) dan sikap
seseorang terhadap suatu masalah yang menjadi topik bahasan.
3.
Argumen adalah
serangkaian asersi beserta keyakinan (artikulasi) dan inferensi atau
penyimpulan yang digunakan untuk mendukung suatu keyakinan. Argumen digunakan
untuk membentuk, memelihara, atau mengubah suatu keyakinan.
Proses atau Struktur Penalaran
Gambar
di atas menunjukkan bahwa argumen dalam proses penalaran meru-pakan salah satu
bentuk bukti yang oleh Mautz dan Sharaf (1964) disebut sebagai argumentasi
rasional (rational argumentation). Dua jenis bukti yang lain adalah bukti
natural dan bukti ciptaan. Bukti dalam bentuk argumen rasional akan banyak
diperlukan dalam teori akuntansi yang membahas masalah konseptual khususnya
bila akuntansi dipandang sebagai teknologi dan teori akuntansi diartikan
sebagai penalaran logis.
sesuatu
yang memberi dasar rasional dalam pertimbangan untuk menetapkan kebenaran suatu
pernyataan. Dalam hal teori akuntansi, pertimbangan diperlukan untuk menetapkan
relevansi atau keefektifan suatu perlakuan akuntansi untuk mencapai tujuan
akuntansi. Gambar di bawah ini menunjukkan peran argumen sebagai bukti.
Arti Penting Argumen Sebagai Bukti
Perlu dicatat
bahwa keyakinan yang diperoleh seseorang karena kekuatan atau kelemahan
argumentasi adalah terpisah dengan masalah apakah pernyataan yang diyakini itu
sendiri benar atau takbenar. Dapat saja seseorang memegang keyakinan yang kuat
terhadap sesuatu yang salah atau sebaliknya menolak suatu pernyataan yang benar
(valid). Berikut ini dibahas lebih lanjut konsep atau komponen penalaran.
1. Asersi
Asersi (pernyataan) memuat penegasan
tentang sesuatu atau realitas. Pada umumnya asersi dinyatakan dalam bentuk
kalimat. Berikut ini adalah contoh beberapa asersi (beberapa adalah asersi
dalam akuntansi):
•
Manusia adalah makhluk sosial.
•
Semua binatang menyusui mempunyai paru-paru.
•
Beberapa obat batuk menyebabkan kantuk.
•
Tidak ada ikan hias yang melahirkan.
•
Partisipasi mempengaruhi kinerja.
•
Statemen aliran kas bermanfaat bagi investor
dan kreditor.
•
Perusahaan besar akan memilih metoda MPKP.
•
Informasi sumber daya manusia harus
dicantumkan di neraca.
•
Dalam sektor publik, anggaran merupakan alat
pengendalian dan pengawasan yang paling andal.
Beberapa
asersi mengandung pengkuantifikasi yaitu semua, tidak ada, dan beberapa. Asersi
yang memuat pengkuantifikasi semua dan tidak ada merupakan asersi universal
sedangkan yang memuat penguantifikasi beberapa merupakan asersi spesifik.
Asersi spesifik dapat disusun dengan pengkuanti fikasi sedikit, banyak,
sebagian besar, atau bilangan tertentu. Pengkuantifikasi diperlukan untuk
menentukan ketermasukan (inclusiveness) atau keuniversalan asersi. “Burung
dapat terbang” tidak dapat diinterpretasi sebagai asersi universal karena kita
tahu kecualian terhadap asersi tersebut yaitu misalnya burung unta (yang tidak
dapat terbang). Tanpa pengkuantifikasi ketermasukan akan sangat sulit
ditentukan. Misalnya seseorang mengajukan asersi “Pria lebih berat badannya
daripada wanita.” Asersi tersebut meragukan (ambigus) karena sulit untuk
diinterpretasi apa maksud sesungguhnya asersi tersebut.
·
Asersi untuk
Evaluasi Istilah
Representasi
asersi dalam bentuk diagram dapat digunakan untuk mengevaluasi ketepatan makna
suatu istilah. Sebagai contoh, manakah istilah yang tepat antara bersertifikat
akuntan publik (BAP) dan akuntan publik bersertifikat (APB) sebagai padan kata
certified public accountant (CPA).
Bersertifikat akuntan publik bermakna
himpunan orang-orang yang bersertifikat dan salah satu subhimpunannya adalah
akuntan publik. Sesuai dengan makna aslinya, akuntan publik bersertifikat
bermakna sebagai subhimpunan akuntan publik dan akuntan publik merupakan
subhimpunan akuntan. Diagram berikut menjelaskan perbedaan makna kedua istilah
tersebut.
·
Jenis Asersi
(Pernyataan)
Untuk
menimbulkan keyakinan terhadap kebenaran suatu asersi, asersi harus didukung
oleh bukti atau fakta. Untuk keperluan argumen, suatu asersi sering dianggap
benar atau diterima tanpa harus diuji dahulu kebenarannya. Bila dikaitkan
dengan fakta pendukung, asersi dapat diklasifikasi menjadi asumsi, hipotesis,
dan pernyataan fakta.
Asumsi adalah asersi yang diyakini
benar meskipun orang tidak dapat menga-jukan atau menunjukkan bukti tentang
kebenarannya secara meyakinkan atau asersi yang orang bersedia untuk menerima
sebagai benar untuk keperluan diskusi atau debat.
Hipotesis adalah asersi yang
kebenarannya belum atau tidak diketahui tetapi diyakini bahwa asersi tersebut dapat
diuji kebenarannya. Untuk disebut sebagai hipotesis, suatu asersi juga harus
mengandung kemungkinan salah. Bila tidak ada kemungkinan salah, suatu asersi
akan menjadi pernyataan fakta. Hipotesis biasanya diajukan dalam rangka
pengujian teori. Dalam pengujian ilmiah suatu teori (hipotesis), terdapat
prinsip yang disebut prinsip keterbuktisalahan yang berbunyi bahwa untuk
diperlakukan sebagai teori yang serius dan ilmiah, tia harus dapat dibuktikan
salah kalau memang kenyataannya tia salah. Teori yang kuat atau yang meyakinkan
adalah teori yang tidak hanya dapat dibuktikan salah tetapi juga yang tegar
atau bertahan terhadap segala upaya untuk membuktikan salah. Prinsip ini
didasari oleh pemikiran bahwa teori itu tidak dapat dibuktikan benar tetapi
yang dapat dibuktikan adalah bahwa ia salah. Oleh karena itu, pengujian suatu
teori baru (hipotesis) biasanya diarahkan untuk menyanggah teori lawan.
Pendekatan atau strategi semacam ini dikenal sebagai pendekatan penyanggahan
ilmiah (scientific refutation).
Pernyataan fakta adalah asersi yang
bukti tentang kebenarannya diyakini sangat kuat atau bahkan tidak dapat
dibantah. Contoh asersi sebagai pernyataan fakta adalah: semua orang akan
meninggal, satu hari sama dengan 24 jam, matahari merupakan pusat orbit tata surya,
dan penduduk kota Jakarta lebih padat daripada penduduk kota Solo.
·
Fungsi Asersi
Asersi
merupakan bahan olah dalam argumen. Dalam argumen, asersi dapat berfungsi
sebagai premis dan konklusi . Premis adalah asersi yang digunakan untuk
mendukung suatu konklusi. Konklusi adalah asersi yang diturunkan dari
serangkaian asersi. Suatu argumen paling tidak berisi satu premis dan satu
konklusi. Karena premis dan konklusi keduanya merupakan asersi, konklusi
(berbentuk asersi) dalam suatu argumen dapat menjadi premis dalam argumen yang
lain.
Ketiga jenis asersi yang dibahas
sebelum ini asumsi, hipotesis, pernyataan fakta dapat berfungsi sebagai premis
dalam suatu argumen. Dalam hal ini, prinsip yang harus dipegang adalah bahwa
kredibilitas konklusi tidak dapat melebihi kredibilitas terendah premis-premis
yang digunakan untuk menurunkan konklusi. Artinya, kalau konklusi diturunkan
dari serangkaian premis yang salah satu merupakan pernyataan fakta dan yang
lain asumsi, konklusi tidak dapat dipandang sebagai pernyataan fakta. Dengan
kata lain, keyakinan terhadap konklusi dibatasi oleh keyakinan terhadap premis.
2. Keyakinan
Keyakinan
terhadap asersi adalah tingkat kebersediaan untuk menerima bahwa asersi
tersebut benar. Keyakinan diperoleh karena kepercayaan tentang kebenaran yang
dilekatkan pada suatu asersi. Suatu asersi dapat dipercaya karena adanya bukti
yang kuat untuk menerimanya sebagai hal yang benar. Orang dikatakan yakin
terhadap suatu asersi bila dia menunjukkan perbuatan, sikap, dan pandangan
seolah-olah asersi tersebut benar karena dia percaya bahwa asersi tersebut
benar. Kepercayaan diberikan kepada suatu asersi biasanya setelah dilakukan
evaluasi terhadap asersi atas dasar argumen yang digunakan untuk menurunkan
asersi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa keyakinan merupa-kan produk,
hasil, atau tujuan suatu penalaran. Berbagai faktor mempengaruhi tingkat
keyakinan seseorang atas suatu asersi. Karakteristik (sifat) asersi menen-tukan
mudah-tidaknya keyakinan seseorang dapat diubah melalui penalaran.
·
Properitas
Keyakinan
Semua
penalaran bertujuan untuk menghasilkan keyakinan terhadap asersi yang menjadi
konklusi penalaran. Pemahaman terhadap beberapa properitas (sifat) keyakinan
sangat penting dalam mencapai keberhasilan berargumen. Argumen dianggap berhasil
kalau argumen tersebut dapat mengubah keyakinan.
·
Keadabenaran
Sebagai
produk penalaran, untuk dapat menimbulkan keyakinan, suatu asersi harus ada
benarnya . Keadabenaran atau plausibilitas suatu asersi bergantung pada apa
yang diketahui tentang isi asersi atau penge-tahuan yang mendasari dan pada
sumber asersi. Pengetahuan yang mendasari (termasuk pengalaman) biasanya
menjamin kebenaran asersi. Oleh karena itu, konsistensi suatu asersi dengan
pengetahuan yang mendasari akan menentukan plausibilitas asersi. Dalam hal
sumber, autori-tas sumber menentukan plausibilitas asersi. Artinya, kalau
sumber asersi diyakini dapat dipercaya dan ahli di bidangnya tentang topik
asersi, orang akan lebih bersedia meyakini asersi daripada kalau sumbernya
tidak dapat diper-caya dan tidak ahli. Oleh karena itu, kadang-kadang orang
menyerahkan penilaian plausibilitas asersi kepada ahli dengan pemeo “serahkan
saja pada ahlinya.” Dengan pikiran ini, keyakinan diperoleh karena
keautoritatifan sumber. Mengacu argumen pada autoritas sumber untuk mendukung
kebenaran asersi disebut dengan imbauan autoritas.
·
Bukan
pendapat
Keyakinan
adalah sesuatu yang harus dapat ditunjukkan atau dibuktikan secara objektif
apakah tia salah atau benar dan sesuatu yang diharapkan menghasilkan kesepakatan
(agreement) oleh setiap orang yang mengevaluasinya atas dasar fakta objektif.
Pendapat atau opini adalah asersi yang tidak dapat ditentukan benar atau salah
karena berkaitan dengan kesukaan (preferensi) atau selera. Berbeda dengan
keyakinan, plausibilitas pendapat tidak dapat ditentukan. Artinya, apa yang
benar bagi seseorang dapat salah bagi yang lain. Walaupun dalam kenyataan-nya
kedua konsep tersebut tidak dibedakan secara tegas, penalaran logis yang
dibahas di sini lebih ditujukan pada keyakinan daripada pendapat.
·
Bertingkat
Keyakinan
yang didapat dari suatu asersi tidak bersifat mutlak tetapi bergradasi mulai
dari sangat maragukan sampai sangat meyakinkan (convincing). Tingkat keyakinan
ditentukan oleh kuantitas dan kualitas bukti untuk mendukung asersi. Orang yang
objektif dan berpikir logis tentunya akan bersedia untuk mengubah tingkat
keyakinannya manakala bukti baru mengenai plausibilitas suatu asersi diperoleh.
·
Berbias
Selain
kekuatan bukti objektif yang ada, keyakinan dipengaruhi oleh preferensi,
keinginan, dan kepentingan pribadi yang karena sesuatu hal perlu dipertahankan.
Idealnya, dalam menilai plausibilitas suatu asersi orang harus bersikap
objektif dengan pikiran terbuka. Pada umumnya, bila orang mempunyai
kepentingan, sangat sulit baginya untuk bersikap objektif. Dengan bukti
objektif yang sama, suatu asersi akan dianggap sangat meyakinkan oleh orang
yang mem-punyai kepentingan pribadi yang besar dan hanya dianggap agak atau
kurang meyakinkan oleh orang yang netral. Demikian pula sebaliknya.
·
Bermuatan
nilai
Orang
melekatkan nilai (value) terhadap suatu keyakinan. Nilai keyakinan adalah
tingkat penting-tidaknya suatu keyakinan perlu dipegang atau dipertahankan
seseorang. Nilai keyakinan bagi seseorang akan tinggi apabila perubahan
keyakinan mempunyai implikasi serius terhadap filosofi, sistem nilai, martabat,
penda-patan potensial, dan perilaku orang tersebut.
·
Berkekuatan
Kekuatan
keyakinan adalah tingkat kepercayaan yang dilekatkan seseorang pada kebenaran
suatu asersi. Orang yang nyatanya tidak mengerjakan apa yang ter-kandung dalam
asersi menandakan bahwa keyakinannya terhadap kebenaran asersi lemah. Dapat
dikatakan bahwa semua properitas keyakinan merupakan faktor yang menentukan
tingkat kekuatan keyakinan seseorang.
·
Veridikal
Veridikalitas
adalah tingkat kesesuaian keyakinan dengan realitas. Realitas yang dimaksud di
sini adalah apa yang sungguh-sungguh benar tentang asersi yang diyakini. Dengan
kata lain, veridikalitas adalah mudah tidaknya fak-ta ditemukan dan ditunjukkan
untuk mendukung keyakinan. Misalnya keyakinan bahwa besi yang dipanasi akan
memuai lebih mudah ditunjukkan (lebih veridikal) daripada keyakinan bahwa
sistem sosialis dapat mengurangi kemiskinan. Dalam banyak hal, penilaian apakah
benar suatu asersi sesuai dengan realitas merupa-kan hal yang sangat pelik dan
bersifat subjektif. Oleh karena itu, untuk tujuan ilmiah tingkat veridikalitas
keyakinan dievaluasi berdasarkan kaidah pengujian ilmiah (scientific rules of
evidence).
·
Berketertempaan
Ketertempaan
atau kelentukan keyakinan berkaitan dengan mudah-tidaknya keyakinan tersebut
diubah dengan adanya informasi yang rele-van. Berbeda dengan veridikalitas,
ketertempaan tidak memasalahkan apakah suatu asersi sesuai atau tidak dengan
realitas tetapi lebih memasalahkan apakah keyakinan terhadap suatu asersi dapat
diubah oleh bukti. Kelentukan ini biasanya ditentukan oleh kesungguhan pemegang
keyakinan, lamanya keyakinan telah dipegang (baik secara pribadi maupun secara
sosial/umum), dan konsekuensi perubahan keyakinan bagi diri pemegang. Tujuan
suatu argumen adalah untuk mengubah keyakinan kalau memang keyakinan tersebut
lentuk untuk berubah.
3. Argumen
Dalam
kehidupan sehari-hari, istilah argumen sering digunakan secara keliru untuk
menunjuk ketidaksepakatan, perselisihan pendapat, atau bahkan pertengkaran
mulut (Jawa: padu). Dalam pengertian ini, argumen mempunyai konotasi negatif.
Orang yang suka bertengkar dan ingin menangnya sendiri akan menikmati dan
memburunya tetapi orang yang ingin mencari solusi atau alternatif pemecahan
masalah yang terbaik akan menghindarinya. Dalam arti positif, argumen dapat
disamakan dengan penalaran logis untuk menjelaskan atau mengajukan bukti
rasional tentang suatu asersi. Bila seseorang mengajukan alasan untuk mendukung
suatu gagasan atau pandangan, dia biasanya menawarkan suatu argumen. Argumen
dalam arti positif selalu dijumpai dalam bacaan, per-cakapan, dan dalam diskusi
ilmiah. Argumen merupakan bagian penting dalam pengembangan pengetahuan. Agar
memberi keyakinan, argumen harus dievaluasi kelayakan atau validitasnya.
·
Jenis Argumen
Berbagai
karakteristik dapat digunakan sebagai basis untuk mengklasifikasi argu-men.
Misalnya argumen dibedakan menjadi argumen langsung dan taklangsung, formal dan
informal, serta meragukan dan meyakinkan. Klasifikasi yang ditinjau dari
bagaimana penalaran (reasoning) diterapkan untuk menurunkan konklusi merupakan
klasifikasi yang sangat penting dalam pembahasan buku ini. Dalam hal ini,
argumen dapat diklasifikasi menjadi argumen deduktif dan induktif.
1. Argumen Deduktif
Argumen atau
penalaran deduktif adalah proses penyimpulan yang berawal dari suatu pernyataan
umum yang disepakati (premis) ke pernyataan khusus sebagai simpulan (konklusi).
Argumen deduktif disebut juga argumen logis sebagai pasangan argumen ada
benarnya. Argumen logis adalah argumen yang asersi konklusinya tersirat
(implied) atau dapat diturunkan/dideduksi dari
asersi-asersi lain yang diajukan. Disebut argumen logis karena kalau
premis-premisnya benar konklusinya harus benar (valid). Kebenaran konklusi
tidak selalu berarti bahwa konklusi merefleksi realitas (truth).
2. Argumen Induktif
Penalaran ini
berawal dari suatu pernyataan atau keadaan yang khusus dan bera-khir dengan
pernyataan umum yang merupakan generalisasi dari keadaan khusus tersebut.
Berbeda dengan argumen deduktif yang merupakan argumen logis (logi-cal
argument), argumen induktif lebih bersifat sebagai argumen ada benarnya
(plausible argument). Dalam argumen logis, konklusi merupakan implikasi dari
premis. Dalam argumen ada benarnya (plausible), konklusi merupakan generalisa-si
dari premis sehingga tujuan argumen adalah untuk meyakinkan bahwa proba-bilitas
atau kebolehjadian (likelihood) kebenaran konklusi cukup tinggi atau
sebaliknya.
C. Kecohan
(Fallacy)
Dalam kehidupan
sehari-hari (baik akademik mapun noakademik), acapkali dijumpai bahwa argumen
yang jelek, lemah, tidak sehat, atau bahkan tidak masuk akal ternyata mampu
meyakinkan banyak orang sehingga mereka terbujuk oleh argumen tersebut padahal
seharusnya tidak. Kita harus mengenal berbagai kecohan agar kita waspada bahwa
hal semacam itu memang ada sehingga kita tidak terkecoh atau mengecoh orang
lain secara tak sengaja.
a. Stratagem adalah pendekatan atau
cara-cara untuk mempengaruhi keyakinan orang dengan cara selain mengajukan
argumen yang valid atau masuk akal. Stratagem merupakan salah satu bentuk
argumen karena merupakan upaya untuk meyakinkan sesorang agar dia percaya atau
bersedia mengerjalan sesuatu.
b. Persuasi taklangsung merupakan
stratagem untuk meyakiknkan seseorang akan kebenaran atau pernyataan bukan
langsung melalui argumen atau penalaran meainkan melalui cara-cara yang sama
sekali tidak berkaitan dengan validitas argumen.
c.
Membidik
orangnya stratagem ini digunakan untuk melemahkan atau menjatuhkan suatu posisi
atau pernyataan dengan cara menghubungkan pernyataan atau argumen yang diajukan
seseorang dengan pribadi orang tersebut.
d.
Menyampaikan
masalah stratagem ini dilakukan dengan cara mengajukan argumen yang tidak
bertumpu pada masalah pokok atau dengan cara mengalihkan masalah ke masalah
yang lain yang tidak bertautan. Hal ini sering dilakukan orang jika dia tidak
bersedia menerima argumen yang dia tau lebih valid dari argumen yang
dipegangnya.
e.
Misrepresentasi
stratagem ini digunakan biasanya untuk menyanggah atau menjatuhkan posisi lawan
dengan cara memutarbalikkan atau menyembunyikan fakta baik secara halus maupun
terang-terangan.
f.
Imbauan
cacah strategem ini biasanya digunakan untuk mendukung suatu posisi dengan
menunjukkan bahwa banyak orang melakukan apa yang dikandung posisi tersebut.
g.
Imbauan
autoritas stratagem ini mirip dengan imbauan cacah kecuali bahwa banyaknya
orang atau popularitas diganti dengan autoritas. Stratagem ini juga dapat
dianggap sebagai salah satu jenis argumen ad
hominen (memdidik orangnya).
h.
Imbauan
tradisi juga mempunyai justifikasi sehingga tradisi tidak dapat ditinggalkan
begitu saja. Akan tetapi, justifikasi tersebut dapat menjadi kecohan yang
membabi buta. Hal yang perlu dicatat
dalam kaitanya dalam argumen ini adalah bahwa maksud baik tradisi tidak
merupakan alasan yang kuat untuk mempertahankan atau untuk menolak
mempertimbangkan bukti baru kalau memang terdapat bukti kuat baru bahwa maksud
tersebut tidak lagi valid.
i.
Dilema
semua adalah taktik seseorang untuk mengamburkan argumen dengan cara menyajikan
gagasanya dan satu alternatif lain kemudian mekarakterisasi alternatif lain
yang sangat jelek, merugikan, atau mengerikan sehingga tidak ada cara lain
kecuali menerima apa yang diusulkan.
j.
Imbauan
emosi dengan menggugah emosi, pengargumenan sebenarnya berusaha menggeser dukungan
nalar validitas argumen dengan motif. Dengan taktik ini, emosi orang yang
dituju diagritasi sehingga dia merasa tidak enak untuk tidak menerima alasan
yang taklayak. Dua stratagem yang dapat digunakan untuk mencapai hal ini adalah
imbauan belas kasih dan imbaukan tekanan/kekuasaan.
D. Salah
Nalar (Reasoning Fallacy)
Terjadi
apabila penyimpulan tidak didasarkan pada kaidah-kaidah penalaran yang valid.
Jadi salah nalar adalah kesalahan stuktur atau proses formal penalaran dalam
menurunkan simpulan sehingga simpulan menjadi salah atau tidak valid.
a. Menegaskan Konsekuen bila simpulan
diambil dengan pola premis yang menegaskan konsekuen, akan terjadi salah nalar.
b.
Menyangkal
Anteseden, kebalikan dari salah nalar menegaskan konsekuen adalah menyangkal
anteseden. Suatu argumen yang mengandung penyangkalan akan valid apabila
konklusi ditarik mengikuti kaidah menyangkal konsekuen. Bila simpulan diambil
dengan stuktur premis yang menyangkal anteseden, simpulan akan menjadi tidak
valid.
c.
Pentaksaan,
salah nalar dapat terjadi apabila ungkapan dalam premis yang satu mempunyai
makna yang berbeda dengan makna ungkapan yang sama dalam premis lainnya. Dapat
juga, salah nalar terjadi karena konteks premis yang satu berbeda dengan premis
lainnya.
d.
Perempatan
lebih, perempatan atau generalisasi itu sendiri bukan merupakan salah nalar.
Kemapuan merampatkan merupakan suatu kemampuan intelektual yang sangat penting
dalam pengembangan ilmu. Masalahnya adalah bila derajat perampatan begitu
ekstrem sehingga mengabaikan bahwa apa yang diamati merupaka peluar atau
pengecualian.
e.
Parsialitas,
penalar kadang-kadang terkecoh karena dia menarik konklusi hanya atas dasar
sebagian dari bukti yang tersedia yang kebetulan mendukung konklusi.
f.
Pembuktian
Dengan Analogi, dalam pengembangan istilah, analogi sering diartikan sebagai
mengikuti kaidah atau stuktur ungkapan yang sama. Dengan makna ini, menggunakan
analogi untuk menurunkan istilah bukan merupakan salah nalar tetapi merupaka
sarana untuk mengimplikasi kaidah secara taat asas.
g.
Menyusun
Urutan Kejadian dengan Penyebabnya, dalam percakapan sehari-hari atau diskusi,
kesalahan yang sering dilakukan orang adalah menacukan urutan kejadian dengan
penyebaban. Dalam penelitian ekperimental yang bertujuan untuk menguji hubungan
penyebaban, konklusi dapat salah satu atau meragukan karena terdapat faktor
penyebab selain yang diteliti yang ternyata juga mempengaruhi faktor akibat.
h.
Menarik
Simpulan Pasangan, mengambil konklusi pasangan lantaran konklusi yang diajukan
tidak disajikan secara meyakinkan merupakan suatu salah nalar. Kalau suatu
pernyataan yang memang valid disajikan dengan argumen yang kurang efektif, maka
hal terbaik yang dapat disimpulkan adalah bahwa validitas atau kebenaran
pernyataan tersebut belum terungkap atau ditunjukkan tetapi tidak berarti bahwa
pernyataan tersebut tak benar. Dengan demikian kurang meyakinkan suatu konklusi
tidak dengan sendirinya membenarkan konklusi yang ain (pasangan).
E. Aspek
Manusia Dalam Penalaran
Manusia
tidak selalu rasional dan bersedia berargumen sementara itu tidak semua asersi
dapat ditentukan kebenaranya secara objektif dan tuntas. Yang memprihatinkan
dunia akademik adalah kalau para pakar pun lebih suka berstrategem daripada
berargumen secara ilmiah. Berikut ini akan dibahas beberapa aspek manusia yang
dapat menjadi penghalang penalaran dan pengebangan ilmu, khususnya dalam
akademik maupun ilmiah.
a. Penjelasan Sederhana. Rasionalitas
menuntut penjelasan yang sesuai dengan fakta. Keinginana kuat orang untuk
memperoleh penjelasan sering menjadikan orang puas dengan penjelasan sederhana
yang pertama dan menyebabkan orang menjadi tidak kritis dalam menerima
penjelasan. Akibatnya argumen dan pencarian kebenaran akan terhenti sehingga
pengebangan ilmu pengetahuan akan terhambat.
b.
Kepentingan
Mengalahkan Nalar. Hambatan untuk bernalar sering muncul akibat orag mempunyai
kepentingan tertentu yang harus dipertahankan.Budaya akademik yang dapat
menghambat kemajuan pengetahuan :
1.
Sindroma Tes Klinis : mengambarkan seseorang yang merasa
(bahkan yakin) bahwa terdapat ketidakberesan dalam tubuhknya dan dia juga tahu
benar apa yang terjadi karena pengetahuannya tentang suatu penyakit.
2.
Mentalitas Djoko Tingkir : menggambarkan lingkungan akademik
atau profesi seperti ini karena konon perbuatan Djoko Tingkir yang tidak
terpuji harus dibuat menjadi terpuji engan cara mengubah skenario yang
sebenarnya terjadi semata-mata untuk menghormatinya karena dia bakal menjadi
raja(kekuasaan).
c.
Merasionalkan
Daripada Menalar. Sikap merasionalkan posisi dapat terjadi karena keterbatasan
pengetahuan orang bersangkutan dalam topik yang dibahas tetapi orang tersebut
tidak mau mengakuinya.
d.
Persistensi.
Karena kepentingan tertentu harus dipertahankan atau karena telah lama melekat
dalam rerangka pikir, seseorang kadang-kadang sulit melepaskan suatu keyakinan
dan mengantinya dengan yang baru. Sampai tingkat tertentu persistensi merupakan
sikap yang penting agar orang tidak dengan mudahnya pindah dari keyakinan atau
paradigma yang satu ke yang lain
BAB III
PENUTUP
·
Kesimpulan
Dapat
dikatakan bahwa penalaran adalah proses berpikir logis dan sistematis untuk
membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan terhadap suatu pernyataan atau
asersi. Pernyataan dapat berupa teori (penjelasan)
tentang suatu fenomena atau realitas alam, ekonomik, politik, atau sosial.
Pena-laran perlu diajukan dan dijabarkan untuk membentuk, mempertahankan, atau
mengubah keyakinan bahwa sesuatu (misalnya teori, pernyataan, atau penjelasan)
adalah benar. Penalaran melibatkan inferensi (inference) yaitu proses penurunan konsekuensi logis dan melibatkan
pula proses penarikan simpulan/konklusi (conclusion)
dari serangkaian pernyataan atau asersi. Proses penurunan simpulan sebagai
suatu konsekuensi logis dapat bersifat deduktif maupun induktif. Penalar-an
mempunyai peran penting dalam pengembangan, penciptaan, pengevaluasian, dan
pengujian suatu teori atau hipotesis.
DAFTAR PUSTAKA
Suwardjono.2014.
Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Edisi Ketiga. Yogyakarta: BPFE
http://monnygrab.blogspot.co.id/2016/01/penalaran-reasoning.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar